Kehilangan ruang hidup yang menurunkan kualitas hidup dan kesehatan telah mengancam keberadaan komunitas adat Orang Rimba di ekosistem Bukit Duabelas, Jambi. Dari 130.000 hektar ruang hidup Orang Rimba di ekosistem Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari terisa 60.400 hektar, kehilangan ruang hidup mengakibatkan dari 3600 jiwa populasi Orang Rimba, hanya 2000 orang masih hidup nyaman di Taman Nasional Bukit Duabelas. Penyelenggaraan transmigrasi sejak 1968 juga menempatkan 1600 Orang Rimba hidup "dipaksa" menetap bersama sekitar 600.000 pendatang dari Jawa, Hal itu menimbulkan gegar budaya di kalangan Orang Rimba, mereka yang semula terbiasa hidup tradisional dipaksa menjalani kehidupan modern.
Sangat miris rasanya bila keberagaman bangsa terkikis sedikit demi sedikit, ditambah lagi faktornya karena alasan pembangunan dan pemerataan. Jelas yang memengaruhinya adalah pemerataan yang tak terstruktur dengan baik sehingga pendatang justru yang dapat hidup lebih layak di pulau lain, sedangkan masyarakat lokal sendiri tersingkirkan, persis seperti penjajahan Belanda di Indonesia. Oleh karena itu bagaimana pemerintah dapat melaksanakan pembangunan dengan baik-baiknya dan menjamin kualitas hidup masyarakat lokal, dan pendatang hendaknya tahu diri siapa yang menjaga dan melestarikan tanah tersebut sampai kalian datang.
Sumber : Kompas 17 Okt 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar